Senin, 09 Oktober 2023

SEJARAH FARMASI

 Sejarah Singkat Farmasi

    


        Farmasi berasal dari kata “PHARMACON” yang berarti obat atau racun. Sedangkan pengertian farmasi adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputikegiatan-kegiatan di bidang penemuan, pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan,informasi obat dan distribusi obat. Ilmu farmasi awalnya berkembang dari para tabib dan pengobatan tradisionalyang berkembang di Yunani, Timur-Tengah, Asia kecil, Cina, dan Wilayah Asia lainnya. Mulanya “ilmu pengobatan” dimiliki oleh orang tertentu secara turun-temurun darikeluarganya. Di negara Cina, para tabib mendapatkan ilmunya dari keluarga secaraturun-temurun. Itu gambaran “ilmu farmasi” kuno di Cina.

Sedangkan di Yunani, yang biasanya dianggap sebagai tabib adalah pendeta.Dalam legenda kuno Yunani, Asclepius, Dewa Pengobatan menugaskan Hygieia untukmeracik campuran obat yang ia buat. Oleh mmasyarakat Yunani, Hygiea disebut sebagaiapoteker (Inggris : apothecary). Sedangkan di Mesir, praktek farmasi dibagi dalam dua pekerjaan, yaitu : Yang mengunjungi orang sakit dan yang bekerja di kuil menyiapkan racikan obat.

Di dunia Arab pada abad VIII, ilmu farmasi yang dikembangkan oleh parailmuawan Arab menyebar luas sampai ke Eropa. Pada masa ini sudah mulai dibedakan peran antara seorang herbalist dengan kedokteran terjadi pada tahun 1240 ketika Kaisar Frederick II dari Roma melakukan pemisahan tersebut. Maklumat yang dikeluarkantentang pemisahan tersebut menyebutkan bahwa masing-masing ahli ilmu mempunyaikeinsyafan, standar etik, pengetahuan, dan keterampilan sendiri-sendiri yang berbedadengan ilmu lainnya. Dengan keluarnya maklumat kaisar ini, maka mulailah sejarah baru perkembangan ilmu farmasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Berdasarkan hal tersebutmaka lambang Ilmu Farmasi dan Kedokteran Berbeda. Ilmu Farmasi memakai lambangcawan dililit ular sedangkan kedokteran tongkat dililit ular.

Perkembangan ilmu farmasi kemudian menyebar hampir ke seluruh dunia. Mulai Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa Barat. Sekolah Tinggi Farmasi yang pertamadidirikan di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1821 (sekarang sekolah tersebut bernama Philadelphia College of Pharmacy and Science). Setelah itu, mulailah era baruilmu farmasi dengan bermunculannya sekolah-sekolah tinggi dan fakultas-fakultas diuniversitas.

Peran organisasi keprofesian atau keilmuwan juga ditentukan perkembangan ilmu farmasi. Sekarang ini banyak sekali organisasi ahli farmasi baik lingkup nasional maupun internasional. Di Inggris, organisasi profesi pertama kali didirikan pada tahun 1841 dengan nama “The Pharmaceutical Society of Great Britain”. Sedangkan, diAmerika Serikat menyusul 11 tahun kemudian dengan nama “American Pharmaceutical Association”. Organisasi internasionalnya akhirnya didirikan pada tahun 1910 dengannama “Federation International Pharmaceutical”

Sejarah Farmasi di Indonesia 

Periode Penjajahan Belanda

           Seperti banyak negara di dunia, masyarakat Indonesia telah mengenal pengobatan tradisional dengan bahan alami sejak zaman dulu. Seiring dengan masuknya bangsa penjajah, ilmu pengobatan di Indonesia turut berkembang. Ilmu farmasi mulai masuk di Indonesia pada masa penjajahan Belanda, tetapi saat itu belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada awalnya, belum ada profesi apoteker di Indonesia. Pelayanan di apotek masih dilakukan oleh orang-orang dari Belanda, Denmark, Austria, dan Jerman. Sedangkan penduduk pribumi umumnya hanya menjadi asisten apoteker dengan mengikuti pendidikan di apotek tempatnya bekerja. Mereka belajar di bawah pengawasan apoteker dan mengikuti ujian yang diselenggarakan pemerintah Hindia Belanda. Buku pedoman atau farmakope maupun undang-undang yang berlaku juga memakai milik Belanda. Pada masa penjajahan Belanda pula, apotek dan pabrik obat mulai berdiri. Namun, jumlahnya masih sangat sedikit dan umumnya terbatas di Pulau Jawa dan Sumatera. Pada 1937, tercatat terdapat 76 apotek di Indonesia, yang berperan dalam peracikan dan penyerahan obat, baik dalam produksi skala kecil atau distribusi.

Masa Penjajahan Jepang

          Pada saat Jepang mulai menginvasi Indonesia, banyak apoteker berkebangsaan asing yang memilih pergi. Alhasil, terdapat kekurangan tenaga di beberapa apotek. Untuk mengatasi situasi ini, dokter diberi izin untuk mengisi jabatan di apotek ataupun membuka apotek-dokter di berbagai daerah. Pada masa pendudukan Jepang, didirikan pendidikan tinggi farmasi di Indonesia. Selain itu, mulai 1944, Jepang melakukan pendidikan kepada lulusan SMP untuk menjadi asisten apoteker setelah menempuh pendidikan selama delapan bulan. Dari pendidikan asisten apoteker, menghasilkan dua angkatan dengan jumlah lulusan yang terhitung sedikit. Selain itu, pendidikan tinggi yang didirikan Jepang juga tidak bertahan lama karena ikut ditutup ketika Jepang menyerah kepada sekutu pada 1945.

 Periode Perang Kemerdekaan

            Ilmu farmasi di Indoensia mengalami perkembangan yang berarti meski di tengah masa perang kemerdekaan. Hal ini ditandai dengan didirikannya Perguruan Tinggi Ahli Obat di Klaten pada 27 September 1946, yang kemudian menjadi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada UGM) hingga sekarang. Hampir satu tahun kemudian, tepatnya pada 1 Agustus 1947, diresmikan jurusan Farmasi dari Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu alam Universitas Indonesia yang kemudian menjadi Departemen Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Kedua lembaga pendidikan tersebut mempunyai andil besar bagi perkembangan sejarah kefarmasian di Indonesia.

Periode 1950-1967

              Setelah masa perang kemerdekaan, jumlah tenaga apoteker masih minim di kala kebutuhan obat-obatan di Indonesia harus dipenuhi. Untuk mengatasi situasi itu, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang apotek darurat, di mana asisten apoteker dapat memimpin apotek, tetapi hanya sementara. Kemudian, pada 1955, ikatan apoteker Indonesia dibentuk dan diadakan pertemuan mahasiswa farmasi seluruh indonesia di Kaliurang, Yogyakarta. Pada 1958, Indonesia telah memiliki 132 apoteker, 146 apotek, dan 18 pabrik farmasi. Namun, saat itu industri farmasi Indonesia hanya mampu memproduksi 30 persen dari kapasitas produksi karena minimnya devisa dan keterbatasan suplai bahan baku dari luar negeri. Alhasil, Indonesia harus meningkatkan impor obat, yang terkadang obatnya tidak memenuhi standar karena prosedur pengawasan yang belum baik. Pada 1962, Indonesia akhirnya memiliki farmakope sendiri, sementara peninggalan Belanda hanya dijadikan referensi. Mulai 1963, apotek dokter dan apotek darurat tidak diizinkan berdiri lagi. Hal itu sejalan dengan peningkatan jumlah apoteker, yang hingga akhir 1967 telah menjadi 1.100 orang, serta adanya 585 apotek dan 109 pabrik farmasi.

Periode Orde Baru Hingga Sekarang

            Pada masa Orde Baru, perkembangan industri farmasi di Indonesia dapat dibilang semakin baik. Jalur distribusi obat meluas, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan di bidang farmasi menjadi lebih sistematis. Memasuki masa reformasi hingga saat ini, perkembangan farmase semakin maju. Hal ini ditandai dengan bertambahnya jumlah pendidikan tinggi farmasi, industri farmasi, dan berbagai kolaborasi penelitian di Indonesia. Dukungan teknologi yang cukup modern juga membuat produksi obat dalam jumlah besar dapat dilakukan. Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan obat nasional dapat dipenuhi oleh industri farmasi dalam negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEJARAH FARMASI

 Sejarah Singkat Farmasi                 Farmasi berasal dari kata “PHARMACON” yang berarti obat atau racun. Sedangkan pengertian farmasi a...